Jika ada yang masih tak percaya kau tiada, akulah orangnya. Jika ada yang tak menyangka secepat ini kau tinggalkan dunia fana, aku pun jua. Jika ada yang berharap kau untuk kembali berjumpa, mungkin aku satu-satunya. Masih sulit dicerna kau telah berpulang pada Oktober hari kedua. Aku turut merasakan kehilangan tiada tara. Berharap masih bisa bersua pada malam penuh cahaya hingga pagi buta. Tapi itu tentu sudah tak bisa. Kau mendahului kami semua, kami pun harus terima kenyataan itu dengan lapang dada.
Dalam benak ini, aku punya kenangan bersamamu yang luar biasa, dialah aksara. Aksara adalah warisanmu yang istimewa. Betapa tidak, kau melahirkan banyak aksara yang rasanya tak seorangpun sanggup menyamainya. Goresan aksaramu menyebar dimana-mana, dikutip siapa saja, dibaca orang papa, menjadi harapan semua. Kau juga melakukannya di Media Cakra Bangsa, catatan pinggirmu yang tiada hentinya, jika boleh kuutarakan padamu sambil menghamba, telah mengantarkanmu setara bahkan melampaui Goenawan Mohamad yang melegenda. Ya, itu adalah sanjunganku padamu yang mungkin nilainya belum seberapa dibandingkan apa yang sudah kau lakukan pada semesta.
Masih tentang aksara, ya, kubilang padamu bahwa aksaramu begitu tak biasa. Pabila kau tak percaya, biarkan kujelaskan padamu sambil bercanda agar kau tak lupa. Kau punya aksara yang mempesona, Pekeling namanya. Kau menuliskannya di buku hampir setebal kitab suci agama, menyebarkannya ke social media, mengabadikannya dalam kaos hitam bergambar siluet tubuhmu berlatarbelakang pemandangan kirana. Itu belum semuanya, kau bahkan menuliskannya, mungkin lebih tepat mengirimkannya setiap pukul tiga di pagi buta, saat nyawa manusia masih digenggam-Nya dan belum masuk ke raga seutuhnya, kau sudah terjaga. Luar biasa. Andaikata melakukannya sedikit terlambat mendekati jam lima saja, misalnya, kau berkata kawan-kawanmu di WIT sana protes terlalu siang, tak sabar ingin segera membacanya. Pekelingmu sudah keliling Indonesia, dari Sumatera sampai Papua.
Masih tentang aksara, aku terkesima betapa kau seketika berkata “YA” saat kusodorkan harapanku mengekalkan salah satu aksi luar biasa yang membekas di dada. Itu pula yang mengilhamiku mengampanyekan aksaramu ke kawan-kawan sebaya, seperti yang selalu kau lakukan sepanjang hidupmu hingga kepala lima. Setidaknya itu yang kutahu dari perkenalan singkat kita delapan tahun lamanya yang terpatri di dada. Kau juga tak segan membagikan kabar aksaramu yang hilang entah kemana, lalu bertekad menghidupkannya kembali di masa yang sudah terlampau jauh dan lama. Ah, pembicaraan itu akan selalu kuingat dalam isi kepala, paling tidak ada saatnya untuk kulakukan jua di masa, saat segalanya tak kunjung baik-baik saja usai kau tak ada.
Masih tentang aksara, kau ajarkanku mengeja, setiap kata demi kata, untuk menciptakan aksara nyastra yang indah saat kucerna. “Semburat merah saga di ujung senja, dari sebuah desa di ujung selatan Kota Mangga,” katamu di Sukamulya. Kau bilang dalam aksara itu, kau resah dengan negeri ini yang belum merdeka akibat perilaku korup merajalela; demokrasi, HAM, kesejahteraan yang masih angan-angan belaka; juga problematika yang menghancurkan cita-cita kemerdekaan bangsa kita. Indah untaian katanya, aku terbius dibuatnya. Konon itu tak ada apa-apanya. Masih ada karya aksara lainnya yang bahkan lebih melegenda, membekas, dan menusuk dada. “Resah Anak Bangsa”, sekurang-kurangnya itu yang kudengar dari kisah ternama. Tak sempat kututurkan padamu kehendakku untuk mendengar langsung aksara itu yang menjadi buah bibir sesama. Kau keburu tiada.
Masih tentang aksara, mengapa kau begitu lihai bercerita? Maukah kau membuka mata sekali saja untuk menjelaskannya melalui sepatah dua patah kata? Itu saja. Pasalnya, kau telah ajarkan padaku dan lainnya mengenai makna drama, yang tak sekadar kisah belaka, tetapi bernuansa, berharga, berguna, dan tentunya bebas merdeka. “Penyesalan Tiada Guna”. Ah, judulnya saja selalu terngiang-ngiang di kepala. Akankah kau berkenan mengajarkannya lagi padaku ini yang tak tahu apa-apa? Ingin sekali rasanya meski aku rela semisalnya hanya akan menjadi muridmu satu-satunya. Tapi tak apa, aku tahu itu tak bisa, dan tak akan pernah bisa, karena kau sudah tak akan membuka mata, tak akan kulihat lagi semangatmu yang menyala, setidaknya di alam dunia.
Masih tentang aksara, wahai pembaca, tolong jangan kau bosan membaca karena aksara-aksara ini adalah kenanganku satu-satunya dari mendiang tercinta. Ya, dari almarhum yang sudah berpulang ke pangkuan-Nya, aksara itu juga yang mengantarkanku bisa berkelana hingga ke Yogyakarta. Entah seumpama tanpa kau yang menyangga, mungkin aku tak akan bisa ke sana. Kau jua yang meyakinkanku untuk menjaga dan memelihara apa yang selalu kudamba. Jika ada yang bisa kau upayakan melebihi dari biasanya, mungkin akan kau lakukan sampai tak ada jerih payah tersisa. Aku tak sanggup melukiskan seluruhnya karena ku tahu masih banyak riwayat berharga dari orang di luar sana.
Di tengah pengembaraanku dengan aksara, yang kau wariskan nyaris tanpa sisa, kabar duka itu pun tiba. Masih kuingat aksara terakhirmu untukku di tanggal dua puluh tiga, kau berkata kita tak bisa jumpa karena tubuhmu sedang tak nyaman dibawa kemana-mana. Tak kusangka, itu adalah aksara terakhir kita. Kita tak pernah lagi bersua setelahnya, sesudahnya, sampai kini kau pulang ke haribaan-Nya.
Sekiranya Yang Maha Raja berkenan memberi kuasa, akan kuputar jarum jam di dinding merah bata, untukku bisa kembali ke masa, dimana aku bisa kembali mengeja, menata, dan merasa supaya kehilangan dan penyesalanku tak berakhir sia-sia. Aku belum minta maaf padamu sebelum kau tiada, tetapi aku meyakininya dalam dada, kau sudah memberikan beribu maaf untuk kami semua. Untungnya, sempat kuucap terima kasih atas segala, terutama nyala aksara yang selalu kau bawa. Sejatinya, ingin rasanya, kuucapkan langsung terima kasih itu, padamu di depan mata. Maka dari itu, dengan segala jasa dan rasa, izinkan aku ucapkan lagi, terima kasih, “Kang Iing dan Aksara”.
Yogyakarta, 10 Oktober 2025
Ari AJ
Note: tulisan ini versi asli penulis yang dimuat di buku Jejak Laku Kang Iing (Balatin Putera Puteri, 2026)
Catatan & Kabar
Kang Iing dan Aksara
Tulisan ini versi asli penulis yang dimuat di buku Jejak Laku Kang Iing (Balatin Putera Puteri, 2026).